Hope
Aku boleh memiliki harapan kecil(?)
Meskipun hanya dalam sekejap saja harapan itu sudah terbawa angin.
Meskipun aku tahu harapan itu akan menghilang bagaikan uap.
Meskipun nanti harapan itu akan terpecah-pecah menjadi atom-atom.
Namun, aku boleh berharap kan?
Dulu kukira semua akan baik-baik saja.
Aku dan kamu, di antara kita ada sebuah rahasia kecil.
Rahasia yang sebetulnya mengenai kehidupanmu. Rahasia yang sebenarnya menjadi pertanda bagi masa depan.
Seharusnya aku menyadarinya waktu itu.
Seharusnya aku segera menahanmu.
Seharusnya . . .
Tapi semuanya sudah lewat.
Entah sudah berapa lama aku mencoba melupakan dirimu.
Mungkin kau tak ingin menanyakan kabarku, tapi aku ingin berkata kalau aku hampir melupakan bahwa kau pernah ada dalam kehidupanku.
Ah, hampir ...
Lalu, mengapa saat ini aku berada di pinggir jendela, melamun?
Karena aku belum bisa melupakan kamu.
Tepatnya, aku tak bisa melupakanmu.
Masih ada serpihan kecil dirimu di dasar hatiku, yang siap menghujam saat aku mulai akan menghapuskan ingatanku akan dirimu.
Naive
Setiap orang mungkin bermimpi(ingin) menjadi dewasa, namun aku tak ingin berada dalam kedewasaan itu.
Yang ingin aku selami adalah masa kecil. Saat kita masih baru beranjak menjadi remaja yang polos.
Masih bersih, masih belum mengerti apapun.
Naif? Ya, kau boleh bilang aku naif. Kau boleh bilang aku ini kekanak-kanakan, karena tidak mau menghadapi realita.
Bahwa aku hanya penggemar kisah roman belaka.
Bahwa aku adalah gadis kecil yang selalu ada dalam buaian orangtua, ada dalam pelukan kasih sayang oleh semua orang, dan mengalami hal yang membahagiakan.
Secercah harapan mulai muncul saat kau mengatakan sekelumit masa lalumu padaku.
Namun tidak, itu tak pernah terjadi lagi.
Kau akan selalu jauh, jauh, tak tercapai.
Meskipun aku berusaha sekuat apapun menggapaimu, mencoba meraih tanganmu.
Sekali saja, aku ingin menolongmu yang terjatuh ~kau tak pernah membiarkan aku melakukannya sedikit saja.
Apapun yang kulakukan, selalu kaulah yang lebih dulu melindungiku. Dan tanpa berkata apa-apa, kau kembali berlalu.
Kau tahu? Rasanya sakit. Sakit sekali.
Memang. Aku mengakuinya.
Aku tak sama denganmu yang sudah mengalami kepahitan sejak kecil. Kita berbeda. Apa yang menurutku menyakitkan belum tentu menyakitkan bagimu.
Namun, apa karena itu aku tak bisa bersamamu?
Fidelity
Empat tahun berlalu begitu lambat sejak hari itu, saat kau memutuskan bahwa kau akan menempuh jalanmu sendiri.
Aku masih di sini.
Berjalan dengan kehidupanku sendiri. Memutar roda waktu yang tak akan pernah berhenti.
Begitu pulau kau. Aku tak tahu kau berada di mana, dan kau juga tentu tak ingin memberitahuku.
Karena katamu, kehidupan kita berbeda.
Namun, kau tak akan pernah tahu.
Di balik kehidupan yang keras, aku selalu menyimpan harapanku. Meskipun aku tahu harapanku itu setipis jaring laba-laba.
Aku masih menyimpan harapanku bersama dengan serpihan kecil tentang dirimu, mencoba menuliskan cerita kita.
Dengan sedikit harapan yang tersisa.
Dengan sekilas kata-kata terakhirmu yang terus terngiang di telinga.
Dengan sedikit bayanganmu yang menghilang.
Aku ingin terus menyimpan kenangan itu, mencoba merangkainya menjadi sebuah cerita romansa tentang bayangan kerinduan dan cinta.
Meski aku tahu itu hanya khayalan semata.
Namun, aku boleh berharap kan?
Berharap kau akan kembali lagi setelah kau mengucapkan sepatah kata "terima kasih" pada saat itu.
Ah, ternyata aku masih mencintaimu.
Aku boleh memiliki harapan kecil(?)
Meskipun hanya dalam sekejap saja harapan itu sudah terbawa angin.
Meskipun aku tahu harapan itu akan menghilang bagaikan uap.
Meskipun nanti harapan itu akan terpecah-pecah menjadi atom-atom.
Namun, aku boleh berharap kan?
Dulu kukira semua akan baik-baik saja.
Aku dan kamu, di antara kita ada sebuah rahasia kecil.
Rahasia yang sebetulnya mengenai kehidupanmu. Rahasia yang sebenarnya menjadi pertanda bagi masa depan.
Seharusnya aku menyadarinya waktu itu.
Seharusnya aku segera menahanmu.
Seharusnya . . .
Tapi semuanya sudah lewat.
Entah sudah berapa lama aku mencoba melupakan dirimu.
Mungkin kau tak ingin menanyakan kabarku, tapi aku ingin berkata kalau aku hampir melupakan bahwa kau pernah ada dalam kehidupanku.
Ah, hampir ...
Lalu, mengapa saat ini aku berada di pinggir jendela, melamun?
Karena aku belum bisa melupakan kamu.
Tepatnya, aku tak bisa melupakanmu.
Masih ada serpihan kecil dirimu di dasar hatiku, yang siap menghujam saat aku mulai akan menghapuskan ingatanku akan dirimu.
Naive
Setiap orang mungkin bermimpi(ingin) menjadi dewasa, namun aku tak ingin berada dalam kedewasaan itu.
Yang ingin aku selami adalah masa kecil. Saat kita masih baru beranjak menjadi remaja yang polos.
Masih bersih, masih belum mengerti apapun.
Naif? Ya, kau boleh bilang aku naif. Kau boleh bilang aku ini kekanak-kanakan, karena tidak mau menghadapi realita.
Bahwa aku hanya penggemar kisah roman belaka.
Bahwa aku adalah gadis kecil yang selalu ada dalam buaian orangtua, ada dalam pelukan kasih sayang oleh semua orang, dan mengalami hal yang membahagiakan.
Secercah harapan mulai muncul saat kau mengatakan sekelumit masa lalumu padaku.
Namun tidak, itu tak pernah terjadi lagi.
Kau akan selalu jauh, jauh, tak tercapai.
Meskipun aku berusaha sekuat apapun menggapaimu, mencoba meraih tanganmu.
Sekali saja, aku ingin menolongmu yang terjatuh ~kau tak pernah membiarkan aku melakukannya sedikit saja.
Apapun yang kulakukan, selalu kaulah yang lebih dulu melindungiku. Dan tanpa berkata apa-apa, kau kembali berlalu.
Kau tahu? Rasanya sakit. Sakit sekali.
Memang. Aku mengakuinya.
Aku tak sama denganmu yang sudah mengalami kepahitan sejak kecil. Kita berbeda. Apa yang menurutku menyakitkan belum tentu menyakitkan bagimu.
Namun, apa karena itu aku tak bisa bersamamu?
Fidelity
Empat tahun berlalu begitu lambat sejak hari itu, saat kau memutuskan bahwa kau akan menempuh jalanmu sendiri.
Aku masih di sini.
Berjalan dengan kehidupanku sendiri. Memutar roda waktu yang tak akan pernah berhenti.
Begitu pulau kau. Aku tak tahu kau berada di mana, dan kau juga tentu tak ingin memberitahuku.
Karena katamu, kehidupan kita berbeda.
Namun, kau tak akan pernah tahu.
Di balik kehidupan yang keras, aku selalu menyimpan harapanku. Meskipun aku tahu harapanku itu setipis jaring laba-laba.
Aku masih menyimpan harapanku bersama dengan serpihan kecil tentang dirimu, mencoba menuliskan cerita kita.
Dengan sedikit harapan yang tersisa.
Dengan sekilas kata-kata terakhirmu yang terus terngiang di telinga.
Dengan sedikit bayanganmu yang menghilang.
Aku ingin terus menyimpan kenangan itu, mencoba merangkainya menjadi sebuah cerita romansa tentang bayangan kerinduan dan cinta.
Meski aku tahu itu hanya khayalan semata.
Namun, aku boleh berharap kan?
Berharap kau akan kembali lagi setelah kau mengucapkan sepatah kata "terima kasih" pada saat itu.
Ah, ternyata aku masih mencintaimu.
Komentar
Posting Komentar