Aku terdiam kaku.
Memandangi luar jendela yang kini terlapisi oleh embun ulah sang hujan.
Bau ini sangat khas.
Aku mulai membuka jendela perlahan. Membiarkan beberapa udara dingin masuk dan seenaknya menerpa permukaan kulitku, membelai lembut rambut yang mulai beterbangan mengikuti arah angin.
Ini sungguh nostalgia, eh?
Perlahan aku mengangkat tangan. Menyentuh dada tempat jantungku berdetak.
Sesak.
Itulah yang aku rasakan. Saat kegundahan sudah menjadi raja dalam perasaanku, aku tetap terdiam. Menikmati rasa sakit yang terus menjuluri lorong hatiku yang gelap.
Aku sungguh ingin berteriak saat ini juga.
Aku tahu, sebetulnya aku tidak membenci hujan ini. Bagaimana mungkin aku bisa membenci segala rasa nyaman yang diberikan oleh sang hujan?
Wangi khas yang menenangkan ini membuatku nyaman, dulu. Tapi tidak sekarang.
Rasa nyaman itu sudah menjadi rasa sakit.
Bagai gelas pecah yang tak mungkin dapat kembali seperti semula.
Yang aku benci hanyalah diri'nya' yang telah membuatku sesak setiap menikmati bau hujan.
Aku membuka mata, menunjukkan bola mata hitamku yang tersembunyi dalam kelamnya duka. Sebisa mungkin aku berusaha tegar. Walau aku tahu, aku berusaha terlalu keras menghadapi kejamnya takdir.
Sesak.
Tapi inilah takdir yang harus kuterima, 'kan?
Perlahan, amat perlahan, aku mulai mengukir senyum sarkastik. Menunjukkan bahwa aku tak akan kalah menghadapi hujan yang menyerang dadaku.
Aku percaya cinta baru akan membahagiakanku
Ditulis pada saat hujan.
Untukmu, hujanku yang terkasih--cinta pertamaku.
Panombeian. 1.11.2014
Memandangi luar jendela yang kini terlapisi oleh embun ulah sang hujan.
Bau ini sangat khas.
Aku mulai membuka jendela perlahan. Membiarkan beberapa udara dingin masuk dan seenaknya menerpa permukaan kulitku, membelai lembut rambut yang mulai beterbangan mengikuti arah angin.
Ini sungguh nostalgia, eh?
Perlahan aku mengangkat tangan. Menyentuh dada tempat jantungku berdetak.
Sesak.
Itulah yang aku rasakan. Saat kegundahan sudah menjadi raja dalam perasaanku, aku tetap terdiam. Menikmati rasa sakit yang terus menjuluri lorong hatiku yang gelap.
Aku sungguh ingin berteriak saat ini juga.
Aku tahu, sebetulnya aku tidak membenci hujan ini. Bagaimana mungkin aku bisa membenci segala rasa nyaman yang diberikan oleh sang hujan?
Wangi khas yang menenangkan ini membuatku nyaman, dulu. Tapi tidak sekarang.
Rasa nyaman itu sudah menjadi rasa sakit.
Bagai gelas pecah yang tak mungkin dapat kembali seperti semula.
Yang aku benci hanyalah diri'nya' yang telah membuatku sesak setiap menikmati bau hujan.
Aku membuka mata, menunjukkan bola mata hitamku yang tersembunyi dalam kelamnya duka. Sebisa mungkin aku berusaha tegar. Walau aku tahu, aku berusaha terlalu keras menghadapi kejamnya takdir.
Sesak.
Tapi inilah takdir yang harus kuterima, 'kan?
Perlahan, amat perlahan, aku mulai mengukir senyum sarkastik. Menunjukkan bahwa aku tak akan kalah menghadapi hujan yang menyerang dadaku.
Aku percaya cinta baru akan membahagiakanku
Ditulis pada saat hujan.
Untukmu, hujanku yang terkasih--cinta pertamaku.
Panombeian. 1.11.2014
Komentar
Posting Komentar