Kehilangan Sesuatu yang Tidak Pernah Dimiliki



Pernahkah kau tau bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang tidak pernah kau miliki?

Para pecinta sudah melaluinya.
Ya, mereka yang mencintai begitu hebatnya, begitu dalamnya, begitu diamnya.
Cinta mereka sungguh mulia bagaikan mutiara,
Pun kasih mereka berhamburan seperti tulusnya air mata

Kasih mereka memancar bagaikan mata air, yang berdiam di tengah hutan
Berharap, pangeran yang sedang berburu dan putri yang mencari kembang akan menemukan airnya yang melegakan
Cinta mereka bagai mutiara yang bersembunyi dalam cangkang kerang, di dasar lautan
Tiada satu pun yang mengetahuinya kecuali para pencari mutiara yang penuh tekad dan perjuangan

Para pecinta itu adalah mereka yang bertahan
Menjadi sahabat, menjadi saudara, menjadi teman, bahkan menjadi sang asing dalam kehidupan orang yang dicintai
Ada garis tak kasat mata yang menjadi penghalang agar cinta diungkapkan
Garis yang tercipta karena manusia, hujan, angin, dan Tuhan sendiri

Aku belajar untuk menjadi pecinta yang mulia
Menjaga amanat ibuku yang juga ditorehkan ibunya Saka dalam Kala:
Iman adalah sebuah pusaka, yang untuk menjaganya kita harus terbentur dengan banyak kekecewaan dan godaan
Dibutuhkan tonggak yang kuat dan menancap begitu dalam untuk menjaganya tetap tegak, sebagai warisan

Aku mengerti bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang tidak pernah kumiliki
Selibat dengannya dalam beberapa putaran bumi terhadap matahari
Merajut mimpi, menggantung bintang, dan memperbaiki diri bersamanya membuatku mengerti
Bahwa rasa bahagia dari kebersamaan kami tidak bertahan selama yang kuinginkan, dan sebuah persinggahan pun harus usai 

Ya, kami adalah persinggahan yang pernah kusangka sebagai tujuan
Sebelum Tuhan mengingatkanku pada hal yang harus kupertahankan, pusakaku: iman
Sangkaku aku memilikinya dan dia pun memiliki diriku sedemikian
Hingga akhirnya kenyataan menarik atensiku, bahwa hanya Pencipta yang memiliki semua ciptaan

Dan pada titik itulah diriku merasakan kehilangan
Saat aku harus mengucapkan selamat datang kepada perpisahan
Dan menyerahkan “kami” kepada sebuah kepergian
Untuk kemudian aku menangis sejadi-jadinya sambil membalikkan badan

Pernah kucoba menyampaikan beberapa larik doaku padanya
Namun akhirnya aku harus berhenti atas segala usaha
Berusaha insaf dan tak lagi ingkar pada sebuah jera
Karena Tuhanku tak pernah menyampaikan doaku pada Tuhannya

Aku mengerti bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang tidak pernah kumiliki
Usaha yang sia-sia dan ikhlas yang pura-pura membuat rasa pahit menalu-nalu di relung hati
Pernah membuatku menjadi seseorang yang selalu meratapi kehilangan yang penuh misteri
Untuk kemudian menciptakan pengertian baru dalam hidup: betapa berharganya hati



Kamar, pada permulaan malam di hari Jumat
Hatiku


Komentar